tunggu dulu,

kenapa sih kita harus selalu mengatakan sesuatu yang kita anggap benar?

dimanakah yang namanya sopan santun dan menghargai perasaan orang lain?

karena kadang-kadang, not everyone wants to hear the bitter truth, and who are you to judge? everyone has their own stories, and you may never heard of them.

so shut the fuck up and enjoy your life, not someone else’s

joke nggak lucu

ANGINA (a condition)

Angin artinya wind,

Na artinya panggilan untuk seorang anak (kid)

jadi ANGINA adalah: wind-kid

contoh pemakaian dalam kalimat: 

Bapak X datang ke dokter dengan keluhan angina pectoris

dapat diubah menjadi:

Bapak X datang ke dokter dengan keluhan wind-kid

sekolah kedokteran kadang-kadang justru membelokkan otakmu ke arah yang tidak benar.


azalia-brontosaurus:

Indonesia Bisa, Saya Bisa!
Diego Michiels

so long, Irfan Bachdim!

azalia-brontosaurus:

Indonesia Bisa, Saya Bisa!

Diego Michiels

so long, Irfan Bachdim!

(via azalia-brontosaurus)

"Terima kasih kepada Egi Melgiansyah, Kurniawan Meiga, Abdul Rachman, Gunawan Dwicahyo, Ferdinand Sinaga, Patrick Wanggai, Titus Bonai, Diego Michiels, Oktovianus Maniani, Yongki Aribowo, Andritany Ardhiyasa, Hasyim Kipuw, Hendro Siswanto, Jajang Sukmara Septia Hadi, Yericho Christiantoko, Andik Vermansyah, Mahadirga Lasut, Rizky Ramdani, Stevie Bonsapia, Lukas Mandowen dan sederet nama lainnya yang sudah menjalankan misi seoke-okenya. kalian keren!"

— salam bangga dari kami, rakyat Indonesia :)

(Source: horehorere, via indounique)

(Source: bonjourtika)

garuda muda

Apa sih yang gue tau tentang sepakbola Indonesia? Bambang Pamungkas, Persija, Nurdin Halid…… udah. Hafalkah gue sama nama-nama pencetak skor timnas? Nggak. Atau hafalkah gue sama nama pemain timnas? Boro-boro.

But everything changed in a year or two. 

Sebagai bukti bahwa gw adalah suporter timnas terpayah, gue juga bakal ngaku kalau gue lupa Piala Asia itu diadakan berapa tahun yang lalu hehehe. Cuma gue masih ingat betul kalau kita kalah di final lawan musuh, yang walaupun serumpun, bebuyutan banget seperti Madrid dan Barcelona. Waktu Piala Asia (atau AFF) gue ingat, itu pertama kalinya gue bangga dan merinding ketika lagu Indonesia Raya dikumandangkan di Stadion Gelora Bung Karno, dan kemudian kita menang, walaupun tetap saja kalah karena sebelumnya kita kalah di Malaysia. 

Namun sudah 2 minggu ini semangat nasionalisme gue dalam hal persepakbolaan bangkit kembali! Muahahahahaha. Semua akibat kedua puluh pemain yang baru sekali ini gue liat bermain memakai jersey timnas, atau disebut juga Garuda Muda. 

They played really good. And I mean really really good.

Gue sejujurnya tidak menaruh harapan besar kepada tim ini, bukannya pesimis, cuma memang bawaan gue yang orangnya selalu berpikir tentang worst case scenario, sehingga ketika kejadian buruk itu terjadi, gue udah menyiapkan mental gue biar nggak patah hati terlalu lama (loh kok curhat?) hahaha nggak deng

But seriously, gue bener-bener tidak menyangka ternyata pemain-pemain Indonesia masih ada yang se-semangat para Garuda Muda ini. Soal skill, who am I to say sih, kalau kata seorang teman cowok gue “udah jangan nyalahin pemain bolanya, emang lo bisa main kayak gitu?” so I’m not gonna judge them from their skill (which is pretty outstanding for a bunch of early 20s players) tapi dari semangatnya.

Highlight dari penampilan timnas U-23 di SEA Games kemarin ini tentunya ketika semifinal lawan Vietnam. 

I can’t believe my eyes when I see those men in Indonesian jerseys running around in the field. Tenanga kuda banget, kalau kata gue di twitter: warriors from kick off. Karena bahkan gue yang orang awam saja melihat bahwa mereka bermain dengan semangat, dengan passion, dengan kecintaan yang begitu besar kepada negaranya, and of course to the beautiful game they love so much, football.

They’re here prove to Indonesian people bahwa “kalian masih punya harapan, dan harapan kalian adalah kami!” dan mereka membuktikannya. I see bright future for Indonesian football, di tangan ke-dua puluh pemain Indonesia U-23 ini. Mereka mungkin kalah di final, tapi sudahlah, rakyat Indonesia sudah biasa sama yang namanya kalah, tapi…… there’s just something different kalau melihat permainan timnas di SEA Games kemarin. 

Something words can’t describe, something only time will tell. 

Hope.

Akan sepakbola Indonesia yang lebih baik, soal juara atau enggaknya itu urusan belakangan, yang gue (dan mungkin elo-elo semua yang baca tulisan ini) pingin lihat adalah pemain-pemain yang bermain dengan semangat selama 90 menit, walaupun sudah kalah, walaupun baju sudah kotor terkena lumpur, walaupun lawannya tangguh, walaupun harus jatuh-bangun karena berkali-kali di tackle. Yang gue pingin lihat adalah mental baja pemain timnas, yang nggak dipengaruhi apa-apa kecuali omongan pelatih sebelum bermain, yang nggak peduli mau ditonton presiden atau difoto ibu negara kek, pokoknya mereka bermain untuk diri mereka sendiri, karena mereka suka bermain bola. Karena mereka cinta Indonesia.

Jadi Garuda Muda, ketika nantinya kata ‘Muda’ pada julukan kalian dihilangkan, ingatlah betapa besar semangat kalian dulu, ketika semua mata di Indonesia tertuju ke GBK, kepada kalian. Ketika kalian kalah namun seluruh rakyat Indonesia tetap bersorak sorai karena kalian telah menampilkan suatu permainan sepakbola yang menarik, ingatlah bahwa bukan presiden atau partai politik yang bisa menyatukan seluruh rakyat Indonesia, tapi kalian, jadi bermainlah untuk rakyat Indonesia. Karena Indonesia adalah the football nation, dimana kecintaan rakyatnya kepada kapten tim sepakbola lebih tinggi daripada kecintaan kepada pemimpin negaranya, jadi berusahalah untuk selalu menampilkan yang terbaik. 

Menang kalah itu biasa

vogue:

Jane Lynch and Spouse Lara Embry Photographed by Sebastian Kim for the August Issue of Vogue

vogue:

Jane Lynch and Spouse Lara Embry Photographed by Sebastian Kim for the August Issue of Vogue

(via imgoingboomshakalaka)

Journey #1

24 Juni 2008, pukul 3 sore.

Saya sudah siap dengan kaos berwarna hijau terang, celana jeans, jaket yang terikat di pinggang, ransel, dan koper yang tingginya hampir setinggi kaki saya. Berulang kali saya mengecek kantong depan ransel saya. Paspor ada, tiket terlampir dengan manis diantara halaman paspor. Kemudian ke dalam ransel: digicam dan handycam, buku bacaan untuk di pesawat, buku tulis, tempat pensil, dan segala perintilan lainnya.

Oh iya! Mana kunci gembok koper?! Panik, saya mengobrak-abrik kembali ransel saya. Ternyata ada di kantong depan.

Kegiatan diatas sudah berlangsung sejak pukul 10 pagi. Hari itu saya bangun, mandi, sarapan, dan bersama nyokap membongkar-pasang seluruh isi koper dan ransel saya. Menjelang pukul 12 siang, sesudah makan saya dengan panik menelepon bokap yang masih di kantor: “ayah! kapan pulang? nanti aku ketinggalan pesawat!” seru saya panik. Padahal, saya baru harus berkumpul dengan rombongan pukul 5 sore.

Sepanjang perjalanan ke bandara, saya berusaha tenang padahal dalam hati bersorak gembira. Europe, wait for meee!

24 Juni 2008, sekitar jam 5 sore.

Saya akan pergi ke Eropa, tepatnya London bersama 2 orang teman dari SMA. Kami ikut program homestay EF selama 2 minggu yang akan dilanjutkan dengan jalan-jalan ke Paris, Brussels, dan Amsterdam selama 5 hari.

Untuk bisa pergi ke Eropa ini bukannya tanpa perjuangan. Memang sih, saya masih belum bisa pakai biaya sendiri untuk travelling, tapi selama setengah tahun saya menjelma menjadi anak super baik-baik, ga banyak minta, rajin, pokoknya beda 180 derajat sama saya yang biasanya! hehehe.

Dari mulai awal tahun saya giat menunjukan nyokap dan bokap berbagai brosur homestay dari berbagai instansi. Ada yang 2 minggu, 4 minggu, sampai 3 bulan. Kemudian pilihan ibu saya jatuh ke EF, katanya karena sudah pasti benar dan harganya juga terjangkau.

Setelah mendapat restu orangtua, mulailah saya rajin bertamu ke cabang EF Cinere, yang letaknya dekat rumah saya. Mulai tanya-tanya, minta brosur-brosur yang lebih lengkap, sampai akhirnya mengisi formulir pendaftaran dan bayar uang DP, semua saya kerjakan sendiri. FYI, nggak pernah lho saya se’mandiri’ ini, biasanya semua sudah diurus orangtua, memang sih saya termasuk anak yang ‘dapat segalanya’ walaupun sejujurnya semua yang saya dapatkan itu saya usahakan pakai keringat, darah, dan air mata juga.

Akhirnya sampailah pada hari dimana saya harus mengurus visa. Diantara 3 orang teman, kayaknya saya yang paling bloon dan gak ngerti apa-apa. PM, contohnya, menghabiskan masa kecil di Amerika, dan fasih bener berbahasa inggris. Sedang saya? Kepikiran jawab yes atau no aja udah sukur.

Hari membuat visa pertama tidak akan saya lupakan seumur hidup. Janjian di UK Visa Center di daerah Sudirman sama perwakilan EF, kami bertiga baru datang sekitar jam 11 karena macet. Yang paling panik Tsasya, karena dia yang paling punctual diantara saya dan PM yang taat ber-jam karet ria.

Sampai di UK Visa Center, kami disuruh nunggu, karena semua dokumen sudah dibereskan oleh pihak EF. Tiba-tiba si mas-mas dari EF (sumprit, saya ga tau namanya siapa, makasih lho mas udah ngurusin visa saya) bilang: “Ratih, formulir kamu belum ditandatangan orangtuan.” JENG JENG JENG JENG! suer saya kaget. Aduuuuuhhh bloon banget deh! Saya berulang-ulang ngecek itu formulir, tapi malah kelewatan bagian tanda tangan. Setelah berdebatan sengit apakah saya harus ke kantor bokap untuk minta tanda tangan beliau, akhirnya diputuskanlah akan ditiru saja tanda tangan ayah saya. Untungnya ada tanda tangan ayah saya di salah satu berkas. “Bismillah…” saya dan mas-mas dari EF sama-sama berdoa dengan khusyuk dan sepenuh hati.

Akhirnya tibalah nama saya dipanggil. Saya sudah dengar berbagai kisah dari berbagai orang kalau wawancara bikin visa itu nyeremin, pewawancaranya orang bule dan bersikap seakan-akan nggak ngebolehin kita datang ke negaranya. Tapi ketika saya masuk ruangan wawancara, sang pewawancara saya adalah seorang laki-laki Indonesia berumur sekitar akhir 20an sampai 30 tahun, berkepala botak plontos dan tersenyum pada saya. Dari jendela belakangnya saya dapat melihat Stadion Gelora Bung Karno berdiri megah. Proses wawancaranya berjalan cepat, cuma ditanya nama, nama orang tua dan, “tanggal lahir?” tanya si bapak berkepala plontos. “11 januari 1992.” jawab saya mantap (yaeyalaaah ya kali say alupa ulang taun sendiri) si bapak tersenyum dan bilang: “wah, kayak judul lagu ya.” saya: ._____.

24 Juni 2008, Soekarno Hatta International Airport.

Jam 4 saya sudah ketemu Tsasya di McDonalds bandara. Itu memang menjadi meeting point kami bertiga sebelum bertemu rombongan lain. “PM kejebak macet di depan DPR!” kata Tsasya panik setelah ngecek handphone-nya. Oalaaaah, rupanya di depan DPR ada demonstrasi dan entah kenapa teman saya yang satu itu nggak lewat tol.

Kami harap-harap cemas sambil nungguin PM di McD (sambil makan tentunya, habis excited, bo!) berulang kali saya dan Tsasya nelfon PM, dan manusia di seberang sana itu pesannya cuma satu dan jelas. “Pokoknya lo tungguin gue!”

Sekitar setengah jam kemudian, PM datang tergopoh-gopoh dengan menarik koper dan diikuti oleh ibu dan adiknya. “Aduuuh, sori.” katanya. Saya dan Tsasya langsung ngajak PM masuk ke dalam sementara ibu-ibu kami ber-haha hihi. Maklum satu sekolah, jadi orang tua murid tentunya saling mengenal.

Di dalam airport sudah berkumpul serombongan besar anak berkaus hijau terang (kaus seragam dari EF) seperti kami. Sebelumnya, saya diberitahukan bahwa saya akan sekamar sama anak bernama Asti, sementara Tsasya dan PM akan sekamar. Saya akan tinggal di sebuah rumah di Lowick road, di daerah pinggiran London yang bernama Harrow.

Kami bertiga kemudian ketemu sama Mbak Bella, tour escourt dari EF yang akan nemenin acara jalan-jalan ini. Orangnya agak gemuk dengan muka yang ramah dan belakangan diketahui, suara tawa yang menggelegar.

Setelah bertemu Mbak Bella dan say goodbye ke orangtua, kami bertiga mendekati sekelompok cewek-cewek yang sepertinya baru saling mengenal, habis mereka kayak canggung gitu ngobrolnya.

Yang pertama adalah Karin. Anaknya baik dan lebih pendiam dari yang lainnya, dia berasal dari SMA Labschool Kebayoran dan baru naik kelas tiga, sama seperti saya, Tsasya dan PM.

Yang berponi bernama Arien (belakangan saya beri nama Cimeng), dan sekolahnya di SMA 8 Jakarta

Yang mukanya mirip cina (tapi sampai sekarang tetep keukeuh kalo dia bukan cina) adalah Astrid, yang asalnya dari Tarakanita.

Yang terakhir adalah room mate saya, Asti! Anaknya kalem dan begitu saya teriak “lo temen sekamar gue!” dia cuma mesem-mesem aja.

Habis kenalan, PM tiba-tiba menarik-narik tangan saya dan Tsasya. “Duuh, kebelet pipis!” buset dah ini bocah. Akhirnya kami bertiga keliling-keliling airport nyari toilet.

Begitu bukan pintu toilet, mendadak kaki kami dibanjiri air. Oh no! Toiletnya banjir! Padahal ini umum dan terdiri dari banyak bilik. Kami bertiga pandang-pandangan, dan akhirnya PM lah yang memecahkan kesunyian “Kayaknya, gue pipis di pesawat aja deh….”

***

Rombongan UK terdiri dari 2 kloter. Rombongan yang akan pergi keliling Eropa, dan yang hanya akan ke Inggris saya. Saya, PM, Tsasya, beserta Karin, Arien (it feels weird to call her this), Astrid, dan Asti, termasuk di rombongan yang pertama. Jadi kami berangkat lebih malam dari rombongan kedua yang sudah ada di KL sejak pagi.

Kami memang berangkat naik Malaysian Airlines, berangkat dari Jakarta sekitar pukul 7 malam, transit di KL, lalu kemudian melanjutkan perjalanan ke London.

Bahkan sebelum masuk pesawatpun kami bertujuh sudah rame ngobrol, jalan dan ngantre pengecekan paspor pun beramai-ramai. And I have a feeling we will be good friends.

***

Di pesawat saya nggak bisa tidur, padahal perjalan KL-London memakan waktu sekitar 15 jam.

Untungnya saya dapat seat dekat jendela (udah request ke orang EF: “Mbak, pokoknya saya minta seat dekat jendela pas pulang-pergi ya!”) dan di sebelah saya teman dari EF juga, namanya Orys, dan berasal dari Medan.

Saya grasak-grusuk sendiri di kursi. Bosen. Ngeliat pemandangan yang terlihat hanya warna hitam dan lampu pesawat yang berkelap-kelip. Mau ngobrol sama Orys, eeeh dia begitu duduk di kursinya langsung pake minyak kayu putih, tarik selimut, atur bantal dan bobo dengan manis (bobonya pun ga bangun-bangun sampai kita mendarat di Heathrow airport). Saya ngiri. Saya pingin tidur juga tapi ga bisa.

Akhirnya saya masang headset dan nonton in-flight movie. Pilihan saya jatuh ke The Eye versi Jessica Alba. Saya anti film horror, tapi saya pikir, saya kan di pesawat, apa sih yang perlu ditakutin? Tapi begitu setannya muncul, “eeeeeek!” saya mendengking, Orys bergerak dalam tidurnya, dan terdengar tak-tok-tak-tok suara high heels pramugari. Saya cepat-cepat matikan TV, lepas headset, dan pura-pura tidur.

Sisa perjalanan saya habiskan dengan melototi peta yang menunjukan perjalanan pesawat. Saya tertidur ketika pesawat berada di atas Kazhakstan.

***

Saya terbangun karena mencium bau sarapan. Orys masih tidur. Dari belakang terdengar suara teman-teman saya yang berisik banget. Memang, dibandingkan teman-teman baru, saya yang duduk paling depan.

Ketika melihat keluar, terlihat jajaran sawah-sawah warna hijau dan rumah-rumah pedesaan. Ternyata kami berada di atas Perancis.

Sehabis sarapan, saya cuma bengong melihat pemandangan diluar. Pemandangan diluar ini lah (dan peta perjalanan pesawat) lah yang membuktikan bahwa saya sudah tidak di Asia lagi. Saya ada di benua biru! Eropa! Pertama kalinya nih! Sendirian pula!

Pikiran yang terakhir membuat saya memikirkan orang tua. Terakhir saya SMS nyokap ada di KL, memberitahukan bahwa saya sebentar lagi akan terbang ke London. Jawabannya: “Ya nak, Mama masih di jalan. Macet.” Yep, waktu tempuh Jakarta-Kuala Lumpur (plus waktu menunggu pesawat dan persiapan take-off) ternyata lebih singkat dari waktu tempuh Bandara-Cinere.

Terdengar pengumuman dari kapten bahwa sebentar lagi akan mendarat, harap pakai sabuk pengaman. Di bawah saya terlihat sebuah stadion bola berwarna merah, kemudian kerlap kerlip lampu kota London yang mulai bangun, karena saat itu sekitar pukul 4 pagi GMT time.

Ketika sudah boleh menyalakan handphone, hal pertama yang saya lakukan adalah SMS nyokap, bokap, dan seorang teman di Jakarta.

Rombongan dari Jakarta dijemput oleh 2 orang perwakilan EF Oxford, mereka bawa setroli croissants, pisang, dan berdus-dus jus buah. Dengan tampah kuyu, kami menerima sarapan yang dikasi, tapi kemudian di simpan dalam tas. Jus buahnya pun asem banget rasanya.

Waktu itu, saya, PM dan Tsasya pun semakin dekat dengan teman-teman baru, karena sebelum keluar sempat foto-foto didalam airport, walaupun pake acara diteriakin segala sama bule segede ho-ha dari kejauhan.

Setelah semua beres, kami berjalan keluar airport yang akan membawa anak-anak London (gaya beneeerrr) ke komplek UCL, atau University College London yang akan jadi tempat kami belajar bahasa inggris selama 2 minggu kedepan. Kami juga bakal ketemu sama tour guide yang bakal nganter-nganterin kemana-mana selama di London.

Baru selangkah keluar dari pintu. Brrrrrr…. dingin bangeeeeettttt! Anginnya menerbangkan rambut saya dan muka rasanya kayak disiram pakai air es dingin. Lah? Piye? Katanya summer? Melihat sekeliling, ternyata teman-teman juga semuanya langsung merapatkan jaket.

Kami buru-buru naik ke bus. Lagi-lagi saya cuma bengong ngeliat pemandangan di luar jendela. Saya memang selalu suka liat pemandangan di luar jendela, memperhatikan orang-orang, memperhatikan lingkungan, I think I’m a good observer.

Hari itu, 24 Juni 2008, di London, pukul 6 pagi. Jalanan sudah ramai, macet pula. Saya sibuk memperhatikan cara berpakaian orang-orang. T-shirt dan jeans dan boots dan shawl dan jaket kulit.

Setelah perjalanan yang panjang dari bandara ke pusat kota, akhirnya tibalah kami di depan Drayton House. Barang-barang diturunkan, dan kami pun saling akrab satu sama lain. In the end, we become a great big family.

Di Drayton House kami kenalan sama tour guide yang berasal dari Pakistan, namanya Amir, seorang muslim. Kemana-mana dia selalu pakai baju polo shirt EF warna biru.

Kami dibagikan kartu telepon, saya dapet T-Mobile. Kemudian saya langung SMS orangtua dan teman-teman. Kebetulan saat itu teman-teman SMA saya juga lagi pergi ke luar negeri, beberapa pergi ke Jepang-Korea, dan ada juga yang Umroh.

Setelah itu kami keluar, diajarkan cara naik Underground, cara top-up kartu telepon, dan lain-lain.

Kami pergi ke Tottenham Court Road, kemudian Oxford Street, and before I knew it, we have to go back. Kami diantarkan ke sebuah bar kecil di area pinggiran London, dimana para house parents akan menjemput.

Saya dan teman-teman duduk di bangku taman, saat itu sekitar pukul 5 sore, dan angin bertiup sangat kencang. Saya duduk merungkel sambil memeluk badan. Kami semua merapatkan jaket dan duduk berdempetan. Tidak pernah saya merasa sedingin itu dalam hidup saya.

Dua jam kemudian, para house parents datang. Mereka meminta maaf karena jalanan ke the White Bear pub—tempat kami menunggu— ditutup, jadi mereka harus memutar cukup jauh.

Saya dan Asti dijemput oleh ‘ayah’ kami, Andy dan anaknya yang berumur 5 tahun, Mark. Mereka naik sedan. Koper Asti ditaruh di bagasi, kemudian dia duduk di depan bersama Andy, sementara saya, koper saya, dan Mark duduk di belakang, Mark duduk di baby car seat.

Sepanjang perjalanan, saya ngobrol sama Mark, walaupun agak susah mengerti karena logat British-nya yang sangat kental.

Kami akhirnya sampai juga dirumah, kami sudah ditunggu Sveta, istri Andy. Sveta adalah wanita yang kurus, berambut pirang, dan mempunyai mata biru. Kami diantar ke kamar di lantai 2, disebelah kamar mereka. Rumah Harrow—saya menyebut rumah di Lowick road itu di kemudian hari— adalah rumah yang kecil dengan 3 kamar dan 1 kamar mandi, yang semuanya terletak di lantai 2. Kamar saya dan Asti menghadap ke jalanan, terdiri dari 2 single bed, dan lantainya berkarpet. Sangat nyaman.

Setelah merapikan koper, kami makan bersama. Fish pie berisi salmon dan ikan cod dengan brokoli. Yum yum yum, makanannya enak banget! Cuma saya dan Asti merasa sangat kekenyangan. Sambil makan kami mengobrol, Andy dan Sveta bercerita kalau mereka baru pulang liburan dari Italy, jadi minta maaf kalau belum membereskan rumah.

Setelah makan, saya dan Asti kemudian main dengan Mark di ruang TV. Mark mempunyai satu set mainan alat-alat pertukangan.

Kemudian, Andy datang membawakan kami ice cream home made untuk dessert.

Diluar sudah gelap, jadi sudah saatnya untuk Mark tidur, dan kami pun naik ke kamar.

Hari itu, walaupun berada di tempat baru, saya tertidur dengan lelap.